You are here

Museum Kereta Ambarawa

Naik kereta api sudah menjadi hal yang biasa, akan tetapi jika naik kereta uap dengan bahan bakar kayu jati dan mengeluarkan bunyi yang keras, tentu saja tidak selalu bisa dinikmati oleh semua orang. Museum Kereta Ambarawa masih memiliki beberapa kereta uap dengan menggunakan mesin ketel uap. Museum kereta Ambarawa pada awalnya dikenal sebagai Stasiun Willem I dan dibangun pada tanggal 21 Mei '1873. Digunakan untuk mempermudah mengangkut pasukan Belanda menuju Semarang dan Ambarawa pada saat itu adalah sebagai basis militer Kolonial Belanda.

Aktivitas stasiun ini ditutup sejak tahun 1970 dan stasiun Kereta Api Ambarawa diresmikan menjadi Museum Kereta Ambarawa pada tanggal 08 April 1978. Museum Ambarawa mempunyai 21 lokomotif kuno dan pernah digunakan oleh tentara Indonesia dalam pertempuran perang melawan tentara Belanda. Namun kondisinya saat ini kelihatan kurang terawat dan banyak warga sekitar mendirikan bangunan rumah dan lainnya, sehingga mengganggu keindahan bangunan museum.

Jalur Kereta Bergerigi
Uniknya rel kereta yang digunakan adalah jalur kereta bergerigi. Jalur digunakan untuk jalur mendaki menuju stasiun kereta Bedono yang berjarak 9 kilometer. Dari stasiun Ambarawa menuju stasiun Bedono ditempuh dengan waktu sekitar 1.5 jam. Sebuah jalur kereta yang eksotis, karena dapat menikmati keindahan alam pegunungan Merbabu, hijaunya sawah padi dan keindahan Rawa Pening. Jalur kereta dari Ambarawa ke Bedono akan singgah di Stasiun Jambu untuk putar balik arah. Lokomotif akan dipindah ke bagian belakang untuk mendorong kereta naik menuju stasiun Bedono. Kereta uap berhenti selama 15 menit untuk mengisi air untuk memanasi ketel uap. Lokomotif uap membutuhkan waktu 2,5 jam untuk memanaskan air sebanyak 2000 kubik dalam ketel uap. Bahan bakar yang digunakan juga harus dari jenis kayu keras sejenis kayu jati. Kemudian, kereta uap baru dapat digerakkan dan memerlukan seorang masinis yang paham tentang proses kinerja mesin kereta uap.